main.seo.sch.id/, Jakarta – Fenomena makan banyak tapi tetap langsing kerap memicu rasa heran, bahkan iri. Ada individu yang bebas menyantap nasi, gorengan, hingga dessert tanpa takut timbangan meledak, sementara sebagian lain merasa “makan sedikit saja berat badan langsung naik”. Ternyata, kondisi ini bukan sekadar mitos. Dunia medis memiliki penjelasan ilmiahnya.
Hal ini dibahas dalam program kesehatan yang disiarkan melalui live Instagram Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menghadirkan Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, Sp.GK, Subsp.K.M, Spesialis Gizi Klinik Konsultan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Makan Banyak tapi Tetap Langsing, Ini Penjelasan Medis Berbasis Genetik
Menurut dr. Tuti, dua orang dengan usia, pola makan, dan aktivitas fisik yang tampak sama bisa memiliki hasil berat badan yang sangat berbeda. Penyebab utamanya terletak pada faktor genetik, khususnya polimorfisme gen, yaitu variasi kecil pada gen yang memengaruhi respons tubuh terhadap makanan, aktivitas fisik, dan metabolisme.
“Gen ini berhubungan dengan yang kita sebut nutrigenomik, yaitu bagaimana gen memengaruhi respons tubuh terhadap pola makan dan gaya hidup,” jelas dr. Tuti, dikutip Minggu (21/12).
Salah satu mekanisme kuncinya terletak pada resting metabolic rate (RMR) atau kebutuhan energi dasar tubuh saat istirahat. Individu dengan gen tertentu memiliki RMR yang lebih tinggi sehingga pembakaran energi lebih efisien. Sebaliknya, pada mereka yang RMR-nya lambat, kelebihan energi dari makanan akan lebih mudah disimpan sebagai lemak. Itu sebabnya ada orang yang makan banyak tapi tetap langsing.
Peran Genetik dan Resting Metabolic Rate
Meski gen berperan, dr. Tuti menegaskan bahwa kontribusi genetik pada obesitas sekitar 30–40 persen. Sisanya sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan gaya hidup.
“Walaupun gennya bagus, kalau asupannya berlebih dan aktivitas fisiknya kurang, tetap bisa menjadi obes,” ujarnya. Obesitas pun tidak terjadi seketika, melainkan perlahan—enam bulan sekali ukuran pakaian naik tanpa disadari.
Karena itu, mengetahui kondisi genetik justru penting sebagai langkah pencegahan. Jika gen metabolisme diketahui kurang optimal, maka asupan perlu diatur lebih ketat dan aktivitas fisik harus ditingkatkan—bukan dengan tidak makan, melainkan makan sesuai kebutuhan.
Kurus Belum Tentu Sehat
Tubuh langsing juga tidak selalu identik dengan sehat. Kunci utamanya ada pada komposisi tubuh, yaitu perbandingan lemak dan massa otot.
Seseorang bisa terlihat kurus, tetapi memiliki lemak tinggi dan otot rendah—kondisi yang dikenal sebagai sarkopenia. “Orang dengan otot kecil daya tahan tubuhnya lebih rendah, mudah capek, dan gampang sakit,” kata dr. Tuti. Sebaliknya, massa otot yang baik berkaitan dengan kebugaran, kekuatan, dan penuaan biologis yang lebih lambat.
Pemeriksaan komposisi tubuh membantu membedakan apakah kurus atau gemuk tersebut sehat, sekaligus memberi gambaran usia biologis seseorang.
Nutrigenomik, Kunci Memahami Respons Tubuh
Nutrigenomik adalah pemeriksaan gen yang berkaitan dengan nutrisi, metabolisme, dan gaya hidup. Melalui tes ini, seseorang bisa mengetahui respons tubuh terhadap berbagai asupan—mulai dari vitamin D, kafein, gluten, laktosa, hingga sodium.
Contoh yang menarik adalah kopi. “Pada gen tertentu, konsumsi kopi lebih dari satu cangkir per hari dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner hingga sekitar 50 persen,” ungkap dr. Tuti. Bahkan, jika konsumsi mencapai dua hingga tiga cangkir per hari, risikonya bisa meningkat hingga dua kali lipat. Namun, pada gen lain, risiko tersebut tidak meningkat.
Inilah sebabnya rekomendasi nutrisi tidak bisa disamaratakan.
Gen dan Kecepatan Metabolisme
Nutrigenomik juga menjelaskan perbedaan kecepatan metabolisme. Selisih antara metabolisme cepat dan lambat bisa mencapai 150 kalori per hari. Angka ini tampak kecil, tetapi bila terjadi terus-menerus, dampaknya signifikan.
Misalnya, perempuan dengan berat 50 kg umumnya direkomendasikan mengonsumsi 1.300–1.500 kalori per hari. Jika ia memiliki gen metabolisme lambat, kebutuhan nyatanya bisa 150 kalori lebih rendah. Kelebihan kecil inilah yang, dari waktu ke waktu, memicu kenaikan berat badan.
Diet dan Olahraga Tidak Bisa Dipukul Rata
Tak heran jika ada orang gagal dengan intermittent fasting atau diet tertentu, sementara orang lain berhasil. Melalui nutrigenomik, dapat diketahui pola diet apa yang paling sesuai—apakah diet Mediterania, rendah karbohidrat, rendah lemak jenuh, atau tinggi protein. Respons tubuh terhadap olahraga—termasuk pengaruhnya pada berat badan, kolesterol HDL, dan tekanan darah—juga berbeda-beda.
Bagaimana Proses Tes Nutrigenomik?
Pemeriksaan nutrigenomik tersedia di berbagai laboratorium dan relatif tidak invasif, menggunakan sampel darah atau air liur. Hasilnya berupa laporan komprehensif yang memetakan berbagai gen terkait nutrisi, metabolisme, manajemen berat badan, dan respons olahraga, sebagai dasar rekomendasi gaya hidup yang lebih personal.






