main.seo.sch.id/, Jakarta – Diabetes dapat berujung pada penyakit jantung. Banyak orang masih memandang diabetes sebatas persoalan kadar gula darah, padahal dampaknya jauh lebih luas—terutama terhadap kesehatan kardiovaskular.
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah, baik yang berukuran besar maupun kecil. Kerusakan ini mempercepat proses aterosklerosis, yakni penyempitan arteri akibat penumpukan plak. Ketika kondisi ini terjadi di pembuluh darah jantung, risiko penyakit jantung koroner meningkat signifikan.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr Giovanno Rachmanda Maulana, Sp.JP, FHA, dari Siloam Heart Hospital menegaskan bahwa diabetes bukanlah penyakit yang berdiri sendiri.
“Tanpa disadari, kondisi ini bisa merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung secara signifikan,” ujarnya dalam bincang sehat “Diabetes & Penyakit Jantung: Kombinasi Berbahaya yang Mengancam Nyawa” bersama media di Jakarta, Senin (13/4).
Ia juga menambahkan bahwa penanganan diabetes harus dilakukan secara menyeluruh.
“Penanganan diabetes perlu dilakukan secara komprehensif, tidak hanya mengontrol gula darah, tetapi juga faktor risiko lain seperti tekanan darah, kolesterol, dan gaya hidup.”
Fenomena “Silent Damage” Diabetes dan Penyakit Jantung yang Kerap Terlewat
Salah satu hal yang membuat kombinasi diabetes dan penyakit jantung begitu berbahaya adalah sifatnya yang sering tidak bergejala di tahap awal. Bahkan, dalam banyak kasus, kerusakan sudah terjadi sebelum pasien menyadarinya.
Menurut dr. Giovanno, diabetes dapat menyebabkan kerusakan saraf yang membuat pasien tidak merasakan gejala khas serangan jantung.
“Jadi memang si diabetes ini merusak ujung-ujung saraf, makanya ada yang namanya sifatnya asimptomatik, dia tidak terasa sama sekali atau silent damage.”
Hal ini menjelaskan mengapa sebagian pasien baru mengetahui kondisi jantungnya setelah mengalami komplikasi serius. Dalam praktik klinis, tidak jarang ditemukan pasien yang ternyata sudah mengalami beberapa kali serangan jantung tanpa pernah merasakan nyeri dada sebelumnya.
Kondisi ini semakin diperparah oleh faktor risiko lain seperti hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, serta gaya hidup sedentary. Kombinasi tersebut menjadikan diabetes dan penyakit jantung sebagai ancaman kesehatan yang kompleks dan saling memperburuk.
Indonesia dan “Fenomena Gunung Es” Diabetes
Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengendalian diabetes. Berdasarkan data yang dipaparkan, jumlah penderita diabetes di Indonesia terus meningkat dan diperkirakan tetap berada di peringkat lima dunia hingga 2045.
Fenomena ini sering disebut sebagai “gunung es”, di mana jumlah penderita yang terdiagnosis hanyalah sebagian kecil dari jumlah sebenarnya.

“Banyak yang kita tidak tahu ternyata kita itu diabetes. Takut untuk ngetes, merasa sudah hidup sehat, padahal bisa saja diabetes,” jelas dr. Gio.
Minimnya kesadaran untuk melakukan skrining menjadi salah satu penyebab utama. Padahal, deteksi dini merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut, termasuk penyakit jantung.
Tiga Pilar Pencegahan: Lifestyle, Screening, dan Kepatuhan
Untuk menekan risiko kondisi yang juga dikenal sebagai penyakit gula dan penyakit jantung, pendekatan preventif menjadi kunci. Dr. Giovanno menekankan tiga pilar utama: perubahan gaya hidup, skrining rutin, dan kepatuhan terhadap pengobatan.
Gaya hidup aktif menjadi fondasi utama. Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga berat di gym, tetapi bisa dimulai dari gerakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Selain itu, skrining kesehatan secara berkala juga sangat penting. Pemerintah bahkan telah menyediakan fasilitas pemeriksaan di puskesmas yang cukup lengkap untuk mendeteksi faktor risiko sejak dini.
Kepatuhan terhadap pengobatan juga tidak kalah penting. Banyak pasien yang menghentikan terapi setelah merasa kondisinya membaik, padahal kontrol jangka panjang tetap diperlukan.
Peran Layanan Kardiovaskular Terintegrasi
Dalam penanganan penyakit jantung, pendekatan multidisiplin menjadi semakin penting. Salah satu contoh adalah Siloam Heart Hospital, yang telah berkembang sebagai pusat layanan jantung terintegrasi sejak 2006.
Rumah sakit ini baru saja meraih penghargaan bergengsi Healthcare Asia Awards 2026 sebagai Specialty Hospital of the Year (Cardiology) di Indonesia. Pengakuan ini mencerminkan kualitas layanan yang semakin kompetitif di tingkat regional.
Hospital Director SHH dr Karina Arifiani, menyampaikan, “Bagi kami, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan, tetapi mencerminkan meningkatnya kualitas penanganan pasien jantung di Indonesia. Dengan dukungan teknologi dan pendekatan minimal invasif, pasien kini memiliki peluang pemulihan yang lebih optimal.”
Dengan tingkat keberhasilan tindakan CABG mencapai 98,8%, serta dukungan teknologi modern dan tim multidisiplin, layanan seperti ini menjadi harapan dalam menekan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular.
Saatnya Lebih Peduli pada Kesehatan Jantung
Hubungan erat antara penyakit gula dan penyakit jantung menunjukkan bahwa pendekatan kesehatan tidak bisa dilakukan secara parsial. Mengontrol gula darah saja tidak cukup tanpa memperhatikan faktor risiko lain.
Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan rutin, menjaga pola makan, aktif bergerak, serta mematuhi terapi menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Di era modern ini, ketika gaya hidup serba cepat seringkali mengorbankan kesehatan, memahami risiko diabetes dan penyakit jantung bukan lagi pilihan—melainkan kebutuhan.






